Artikel Terbaru tentang Dramaturgi

Dramaturgi pada awal kemunculannya merupakan istilah yang diperkenalkan oleh filsuf asal Yunan Aristoteles untuk merujuk pada seni dalam berkomunikasi, terutama yang berkaitan dengan drama. Aristoteles yang mempelajari drama-drama Yunani secara serius menganalisa drama secara keseluruhan, mulai dari karakter dan kesalingterkaitan antar karekter, akting, plot, hingga dialog dan cerita. Menurut Aristoteles, dramaturgi akan sangat mempengaruhi reaksi penonton, misalnya bagaimana sebuah cerita dengan dialog-dialog yang bagus dapat membuat penonton tertawa atau bereaksi. Namun pada proses perjalanannya, istilah dramaturgi mengalami banyak peluasan makna dan perkembangan, sehingga kemudian muncul sebagai ilmu yang independen yang berkaitan dengan komunikasi, baik dialog antar tokoh atau aktor di atas pentas maupun dialog antar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini akan diulas mengenai artikel terbaru tentang dramaturgi, terutama dramaturgi di era modern.

Perluasan Cakupan Dramaturgi

Jika Aristoteles menggunakan istilah dramaturgi sebagai cara berkomunikasi atau cara berinteraksi aktor di atas panggung teater dengan sesama aktor maupun dengan penonton, seorang Sosiolog modern bernama Erving Goffman memperluas konsep dan cakupan dramaturgi tidak hanya tentang komunikasi di atas panggung, melainkan dalam cakupan yang lebih luas yaitu kehidupan sosial manusia. bagi Goffman, dramaturgi merupakan bentuk lain dari komunikasi, yaitu alat untuk mencapai tujuan, sehingga dramaturgi tidak hanya terjadi di atas panggung teater sebagaimana teori Aristoteles, melainkan juga dalam kehidupan sosial manusia. Goffman mengandaikan kehidupan sehari-hari sama halnya dengan teater, yang terdiri dari aktor (yaitu manusianya sendiri), penonton (manusia lain yang menyaksikan kehidupan sesamanya, misalnya: peneliti sosial), dan panggung (yaitu sebuah kota atau tempat manusia menjalankan kehidupan).

Baca Juga : Berita Terkini tentang Seno Gumira Ajidarma

Peran Manusia Sebagai Aktor Kehidupan Sosial

Komunikasi merupakan upaya manusia dalam memaksimalkan inderanya untuk dapat mengemukakan pandangan atau pendapatnya pada orang lain, menyampaikan pesan agar diterima oleh orang lain. Dalam dramaturgis, setiap aktor atau pemeran harus memperhitungkan konsep menyeluruh agar ia dapat menghayati peran yang diterimanya sehingga dapat menghasilkan sesuatu sesuai dengan apa yang diharapkan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering memainkan peran tertentu, tergantung pada situasi dan kondisi setiap orang, demi mencapai tujuannya masing-masing.

Sebagai contoh, ketika menghadiri sebuah pesta, setiap orang akan berusaha memainkan peran tertentu untuk mencapai tujuannya. Salah satu upaya yang berkaitan dengan dramaturgi misalnya adalah dengan memakai pakaian tertentu, berkomunikasi dengan cara berbicara tertentu yang berbeda dengen kesehariannya. Hal ini tentu berbeda dengan kehidupan sehari-harinya di luar pesta, yaitu kembali mengenakan pakaian biasa dan berkomunikasi dengan bahasa yang biasa lagi. Contoh tersebut sejalan dengan artikel terbaru Goffman tentang dramaturgi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di atas panggung pertunjukan atau teater.

Itulah artikel terbaru Goffman tentang dramaturgi. Setiap individu, menurut Goffman akan berganti peran sesuai dengan kondisi dan keadaan, sehingga terkesan memiliki identitas yang beragam dan tidak stabil demi menyesuaikan dengan setiap peran yang diterimanya.

Be the first to comment on "Artikel Terbaru tentang Dramaturgi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*